
Enrekang,Warta Global.id-- Sejarah Benteng Alla’ di Kabupaten Enrekang tidak hanya tersimpan pada gerbang dan benda-benda peninggalan masa lalu. Ada pengetahuan lokal, cerita masyarakat, dan ingatan kolektif yang perlu diselamatkan agar tidak terputus dari generasi berikutnya.
Upaya merawat warisan itu dilakukan melalui pameran dokumentasi budaya, pemutaran film dokumenter, dan diskusi budaya yang digelar di Villa Lasharan Garden, Kecamatan Alla’, Kabupaten Enrekang, Sabtu, 10 Oktober 2026. Kegiatan tersebut mempertemukan pemerintah, unsur legislatif, masyarakat adat, pemerintah desa, akademisi, pemerhati budaya, dan generasi muda.
Melalui tiga agenda itu, hasil dokumentasi Situs Sejarah Benteng Alla’ dibawa kembali kepada masyarakat. Tujuannya bukan sekadar memperlihatkan peninggalan sejarah, melainkan memperluas pemahaman publik tentang nilai budaya yang hidup di baliknya.
Dr. Asbar, Ketua Pelaksana Penerima Manfaat, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program “Revitalisasi dan Pelestarian Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) Rawan Punah melalui Dokumentasi Kreatif dan Diseminasi Karya di Situs Sejarah Benteng Alla’, Sulawesi Selatan.”
Program tersebut merupakan kolaborasi Universitas Muhammadiyah Enrekang (UNIMEN), Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan melalui Program Dana Indonesiana.
“Program ini berupaya memperkuat pelestarian warisan budaya melalui pendekatan dokumentasi kreatif yang tidak hanya merekam keberadaan situs dan objek budaya, tetapi juga menghimpun cerita, pengetahuan lokal, serta ingatan kolektif masyarakat yang melekat di dalamnya,” kata Asbar.
Salah satu bagian penting kegiatan itu adalah pameran dokumentasi yang menampilkan foto dan materi visual mengenai kekayaan sejarah Benteng Alla’. Pengunjung diajak melihat bahwa sebuah situs sejarah tidak cukup dipahami hanya dari keberadaan benda atau bangunannya. Konteks sejarah, nilai, dan cerita yang menyertainya juga menentukan bagaimana warisan tersebut dimaknai.
Pemutaran film dokumenter menjadi cara lain untuk menyampaikan hasil dokumentasi kepada publik. Melalui medium audiovisual, lanskap dan objek bersejarah dipertemukan dengan cerita serta perspektif budaya yang berkembang di tengah masyarakat.
Sejumlah objek yang menjadi perhatian dalam dokumentasi tersebut antara lain Gerbang Benteng Alla’, Issong atau lesung batu, Bubun Disuloi, dan Batu Sitodo’. Keberadaan objek-objek itu memperlihatkan pentingnya menghubungkan peninggalan fisik dengan pengetahuan lokal dan penuturan masyarakat agar pemahaman tentang sejarah Benteng Alla’ menjadi lebih utuh.
Namun, dokumentasi baru menjadi langkah awal. Hasilnya perlu terus dikaji, dipahami, dan dimanfaatkan agar tidak berhenti sebagai kumpulan foto atau film yang hanya ditonton sesaat.
Ketua PH Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Massenrempulu, Ali Syamsu, S.Pd., menilai kerja bersama lintas pihak penting untuk memastikan pelestarian budaya berlangsung secara berkelanjutan.
“Sangat penting untuk membangun sinergitas dan kerja bersama dengan semua pihak dalam menjaga warisan budaya. Melalui aktivitas dokumentasi situs budaya seperti Benteng Alla’ ini, kiranya dapat menjadi langkah awal dalam memperkuat kepedulian dan menumbuhkan komitmen untuk terus menjaga kelestarian warisan budaya,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Waliuddin Tandigau’ dari Pemerintah Desa Benteng Alla’ Utara. Menurut dia, dokumentasi tidak semestinya dibatasi pada rekaman peninggalan fisik, tetapi juga harus menjadi sarana mewariskan nilai dan tatanan peradaban yang berkembang dalam kehidupan masyarakat.
“Dokumentasi dalam perspektif ini bukan sekadar merekam peninggalan fisik, melainkan juga menjaga pengetahuan, nilai, dan ingatan yang membentuk kehidupan masyarakat,” katanya.
Kepala Desa Patongloan, Atto Sainal, yang turut hadir sebagai salah satu tokoh kunci dalam penelusuran sejarah Benteng Alla’, berharap kegiatan tersebut menjadi momentum untuk merunut kembali jejak sejarah yang masih tersisa.
Ia mendorong dokumentasi dan penelitian lanjutan agar berbagai informasi yang tersebar di masyarakat dapat ditelusuri, dihubungkan, dan diuji sehingga menghasilkan gambaran sejarah Benteng Alla’ yang lebih utuh.
Dari dokumentasi menuju pendidikan budaya
Persoalan berikutnya adalah bagaimana hasil dokumentasi dapat digunakan setelah kegiatan berakhir. Film dan foto berpotensi menjadi sumber pembelajaran, bahan penelitian, media literasi budaya, serta sarana memperkenalkan sejarah lokal kepada generasi muda.
Aspek tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam diskusi budaya yang menghadirkan dua akademisi dan praktisi pendidikan, yakni Dr. Baharuddin dari Universitas Muhammadiyah Enrekang dan Dr. Fitriyanti Sulaiman.
Diskusi tersebut membahas pemaknaan warisan budaya, pemanfaatan dokumentasi sebagai sumber edukasi, serta peran masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan dalam menjaga keberlanjutan pelestarian Situs Sejarah Benteng Alla’.
Pengembangan dokumentasi menjadi bahan pendidikan penting agar sejarah lokal tidak hanya tersimpan dalam arsip, tetapi juga masuk ke ruang belajar dan percakapan generasi muda. Dengan cara itu, warisan budaya dapat dipahami sebagai sumber pengetahuan yang relevan bagi kehidupan masa kini.
Keberlanjutan upaya tersebut membutuhkan pembagian peran yang jelas. Pemerintah dan pemerintah desa dapat mendukung kebijakan serta pemanfaatan hasil dokumentasi. Masyarakat adat dan lembaga lokal berperan menjaga pengetahuan dan konteks budaya. Sementara itu, perguruan tinggi dapat memperkuat penelitian, pengarsipan, dan pengembangan materi pembelajaran.
Kegiatan ini dihadiri sejumlah pemangku kepentingan, di antaranya anggota DPRD Kabupaten Enrekang, Camat Baroko, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Enrekang, para kepala desa, unsur AMAN Kabupaten Enrekang, akademisi, serta pemerhati budaya.
Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian situs sejarah tidak dapat dibebankan hanya kepada satu lembaga atau kelompok masyarakat. Kolaborasi diperlukan agar dokumentasi yang telah dihasilkan memiliki manfaat lebih luas dan dapat diakses oleh generasi berikutnya.
Bagi Benteng Alla’, tantangan pelestarian tidak berhenti pada upaya mempertahankan objek bersejarah. Pengetahuan yang menjelaskan makna objek tersebut juga perlu dirawat. Tanpa penuturan, penelitian, dan pewarisan yang berkelanjutan, peninggalan fisik berisiko kehilangan sebagian konteks yang membuatnya penting bagi masyarakat.
Diseminasi di Villa Lasharan Garden menjadi salah satu upaya menghubungkan kembali hasil dokumentasi dengan masyarakat pemilik warisan budaya tersebut. Pameran, film dokumenter, dan diskusi membuka ruang bagi publik untuk mengenali, mendiskusikan, serta memikirkan langkah selanjutnya dalam pelestarian.
Pada akhirnya, keberhasilan dokumentasi tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak foto yang tersimpan atau film yang diproduksi. Ukurannya juga terletak pada sejauh mana hasil tersebut memperkuat pengetahuan masyarakat, mendorong penelitian lanjutan, dan diteruskan kepada generasi muda.
Benteng Alla’ menyimpan lebih dari sekadar jejak masa lalu. Di dalamnya terdapat cerita dan identitas yang perlu terus ditafsirkan serta diwariskan. Dokumentasi dapat menjadi jembatan untuk menjaga warisan itu tetap hadir dalam ingatan, pengetahuan, dan kehidupan masyarakat Enrekang.
KALI DIBACA


No comments:
Post a Comment